Keberanian Patimura - Masmus History

Keberanian Patimura 

Keberanian Patimura - Masmus History

Masmus History - Sepanjang tahun 1817 adalah masa-masa yang mengesalkan buat Belanda. Baru saja mendapatkan kembali Kepulauan Maluku dari Inggris, yang berjalan lalu justru tidak seindah yang awalnya dipikirkan. Di bawah komando Kapitan Pattimura, rakyat Maluku kompak melawan Belanda dan menimbulkan kehancuran untuk mereka. Belanda sadar, sepak terjang Pattimura harus sesegera dihentikan jika tidak ingin memikul derita kerugian yang semakin besar. Tapi, itu bukan permasalahan mudah. 

Pattimura adalah profil yang begitu kuat, pemberani, dan susah dikalahkan. Ditambahkan, ia didukung semua rakyat serta raja-raja kecil di Kepulauan Maluku. Karenanya, Belanda menyiapkan taktik khasnya, devide et impera, untuk memisah-misahkan kesolidan rakyat dan beberapa pemimpin Maluku. Usaha itu kenyataannya sukses. Sebab pertolongan beberapa sekutu Pattimura yang sukses dikuasai, sang kapitan selanjutnya bisa ditangkap, dan dijatuhi hukuman mati. Tanggal 16 Desember 1817, cocok hari ini persis dua masa lalu, Pattimura dan beberapa orang pejuang Maluku lainnya, yakni Anthony Reebook, Philip Latumahina, serta Said Parintah, digantung di muka Benteng Nieuw Victoria, Ambon. 

Pattimura Beragama Islam? 

Pattimura menyandang nama Thomas Matulessy waktu dilahirkan pada 8 Juni 1783 di Haria Pulau Saparua, Maluku. Mengenai asal-usul Pattimura kenyataannya masih jadi pembicaraan. Sekurang-kurangnya ada dua versus mengemuka terkait ini. Menurut buku tentang Pattimura versus pemerintah RI yang pertama kali disebarkan, Sedjarah Perdjuangan Pattimura: Pahlawan Indonesia karya M. Sapija (1960), Pattimura masih memiliki darah keluarga Kerajaan Sahulau yang ada di Teluk Seram bagian selatan, seperti dituliskan sebagai berikut: “… bila pahlawan Pattimura termasuk juga turunan bangsawan dan hadir dari Nusa Ina [Seram]. 

Ayah beliau yang bernama Antoni Matulessy adalah anak dari Kasimilali Pattimura Matulessy, sedang yang itu terakhir ini adalah putera Raja Sahulau.” (hlm. iii). Versus awal dan pertama ini buat jadi rujukan sampai ada versus lain tentang asal-usul Pattimura, termasuk agama yang dipeluknya. Versus ke-2 ini dikemukakan Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Kisah Volume I (2009) yang menegaskan pemaparan berbeda mengenai Pattimura. Diterangkan, nama asli Patimura adalah Ahmad Lussy atau Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan. Suryanegara mengatakan Pattimura ialah bangsawan dari Kerajaan Sahulau yang diyakininya telah berdasar ajaran Islam di bawah pemerintahan Sultan Kasimillah atau yang dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali (hlm. 200). 

Pemimpin Rakyat Maluku 

Pattimura tumbuh waktu Kepulauan Maluku alami waktu peralihan persaingan perebutan dari Belanda ke Inggris sejak tahun 1798. Waktu Inggris mulai berkuasa, Thomas Matulessy alias Pattimura muda masuk dinas militer (Korps Ambon). Bentukan negeri Britania Raya itu sampai sampai pangkat sersan (Muka dan Kisah Perjuangan Pahlawan Nasional, Volume 1-2, 1983:53). Tanggal 13 Agustus 1814, Inggris dan Belanda menyepakati Traktat London (Rusdiat & Sulaiman T.S., Api yang tidak Selekasnya Padam, 1983:3). 

Salah satu poin penting jadi hasilnya adalah bila Inggris harus kembalikan wilayah di Nusantara yang awalnya ialah hak punyai Belanda, termasuk Kepulauan Maluku. Kembali ada di bawah cengkeraman Belanda menimbulkan musibah buat rakyat Maluku. Belanda memutuskan kebijakan yang demikian merugikan rakyat, termasuk monopoli perdagangan rempah-rempah, akan memutuskan pajak tanah (landrente) yang tinggi, mengubah warga untuk buat jadi pekerja paksa, sampai permasalahan pelayaran Hongi (hongitochten). Situasi ini tidak pelak membuat rakyat Maluku semakin sengsara dan miskin. Bukan hanya beberapa kebijakan yang mencekik, sikap beberapa petinggi Belanda begitu tidak terpuji. Menurut M. Sapija, mereka bertindak kasar dan curang pada rakyat 

Dikhianati dan Dikasih hukuman Mati 

Sesegera setelah diresmikan jadi pemimpin rakyat Maluku, Kapitan Pattimura sesegera membuat taktik untuk menyerang pos-pos Belanda. Dalam perjuangan ini, Pattimura didukung beberapa tokoh pejuang Maluku lainnya.Termasuk Anthony Reebook, Philip Latumahina, Melchior Kesaulya, Said Parintah, Paulus Tiahahu bersama dengan putrinya, Christina Martha Tiahahu. Operasi penyerangan dimulai. Tanggal 16 Mei 1817, catat M. Sapija, 

Pasukan Pattimura sukses merebut Benteng Duurstede dan menewaskan Residen Johannes Rudolph van den Berg bersama dengan 19 orang prajurit Belanda (hlm. 69). Pattimura semaksimal mungkin jaga benteng dari serbuan Belanda yang bergantian ada. Dalam Pattimura-Pattimura Muda Bangun Penuhi Tuntutan Kisah karya David Matulessy (1979) dikisahkan, pasukan Belanda yang berkekuatan 200 tentara mendobrak pada 20 Mei 1817, tapi luluh-lantak dan hanya tinggal 30 orang saja yang selamat (hlm. 70). 

























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awal Mula Pembuatan Komputer - Masmus History

Awal Mula Olimpiade Lempar Lembing Dunia - Masmus History

Awal Mula Taekwondo Masuk Indonesia - Masmus History